Edin Dzeko Nostalgia Karir Bersama Wolfsburg dan Man City

Edin Dzeko Nostalgia Karir Bersama Wolfsburg dan Man City

Edin Dzeko Nostalgia Karir Bersama Wolfsburg dan Man City

Berita Bola, Penyerang AS Roma, Edin Dzeko baru-baru ini berbicara tentang pengalamannya bermain bersama Wolfsburg dan Manchester City. Dua klub yang menurutnya sangat berarti dalam membangun karirnya seperti saat ini.

Dzeko memulai karir sepakbolanya bersama Zeljeznicar dan bermain sebagai gelandang antara 2003 dan 2005. Pada tahun 2005 dia bergabung dengan FK Teplice dan pindah menjadi penyerang. Di sana Dzeko tampil gemilang di musim terakhirnya sebelum direkrut Wolfsburg pada 2007 dengan biaya 4 juta euro.

“Awalnya sulit di Jerman, karena sesi latihan sangat sulit, tapi ada yang memicu dalam otak saya. Bila anda pikir anda bisa melakukannya, maka apapun itu mungkin. Bila anda mulai berpikir anda akan gagal, maka anda akan hancur,” ujarnya.

“Tahun kedua luar biasa, karena Grafite dan saya mencetak 50 gol di antara kami dan kami memenangkan Bundesliga, di mana ini bukan hal normal. Saya menjadi pemain Wolfsburg dan saya sangat bersyukur,” tambahnya.

Setelah tampil gemilang bersama Wolfsburg, Dzeko pun mendapatkan perhatian dari banyak klub besar Eropa. Dan pada Januari 2011, dia resmi bergabung dengan Manchester City dengan biaya transfer sebesar 27 juta poundsterling.

“Saya ingin bergabung dengan klub yang lebih besar setelah itu dan Mancini mengatakan dia sangat menginginkan saya di Manchester City. Anda bisa mengatakan bahwa pada tahun itu mereka punya potensi,” sambungnya.

Baca Juga : MU Tidak Tertarik Boyong Fabinho

Di musim pertamanya bersama Manchester City, Dzeko tampil 15 kali bersama The Citizens dan hanya membuat dua gol di Premier League.

“Di Inggris semua orang berlari begitu cepat dan saya tak melakukannya dengan baik di beberapa pertandingan pertama. Namun, gol kedua melawan Blackburn sangat berarti dan itu memecahkan kebekuan,” tambahnya.

“Mancini selalu ingin menyerang dan dia tak takut memainkan tiga penyerang. Musim kedua, kami memenangkan Premier League setelah menunggu 44 tahun dan permainan yang benar-benar gila, juara di detik terakhir,” tambahnya.

“Namun tahun ketiga sangat sulit, tapi kami mencapai final Piala FA, hanya kalah dari Wigan. Manuel Pellegrini mengatakan bahwa dia ingin saya bertahan, dan saya melakukannya selama setahun, tapi kemudian merasakan perlu adanya perubahan,” tandasnya.